Sepertinya Indonesia perlu meninjau ulang hasil pendidikan dua dekade terakhir khususnya di daerah-daerah. Karena orang-orang dalam dua dekade terakhir ini sekarang adalah angkatan kerja, usia produktif yang banyak saya temui atau pun saya wawancarai bahkan saya evaluasi kerjanya.
Beberapa fakta yang memprihatinkan.
1. Tamatan SMA, D3 atau pun S1 di kabupaten saya kesulitan dengan soal-soal matematika dasar yang aplikasinya bisa langsung dipakai di dunia kerja. Itu adalah soal matematika yang saya kerjakan sewaktu SD seperti menghitung persentase, mengkonversi ukuran, perkalian dan pembagian dalam soal cerita.
Dalam dua tahun terakhir saya memberikan soal matematika pada mereka, saya hanya menemukan satu orang dengan nilai 100. Yang dapat angka 75 bahkan 50 bisa dihitung dengan jari. Yang dapat angka 25 dan 0 adalah kelompok terbesar.
2. Selama lima tahun saya bekerja di daerah, belum pernah satu kalipun saya menemukan tamatan SMA, D3 dan S1 lokal yang mampu memakai Bahasa Indonesia dalam menulis kalimat-kalimat secara benar baik dalam hal ejaan, huruf besar kecil dan tanda baca. Kelompok terbesar adalah orang-orang yang kesulitan membuat kalimat tertulis.
3. Kebanyakan mahasiswa dan S1 yang mengambil jurusan Bahasa Inggris tidak menguasai bidangnya. Dalam tes lisan yang saya beri, dari 10 kata umum dalam Bahasa Inggris, 8 diucapkan secara 'ngawur'. Bahkan anak-anak kelas 3 SD yang pernah saya ajar di Jakarta jauh lebih menguasai kosa kata dan pengucapannya. Ini belum bicara soal tata bahasanya.
4. Kebanyakan usia angkatan kerjanya belum mengenal kata gigih dan sikap mau belajar hal-hal baru. Mayoritas karyawan wanitanya akan menangis bila ditegur dan dikoreksi biarpun tidak dimaki atau diteriaki. Yang pria mudah putus asa saat dikasih tantangan dan mencari jalan yang lebih mudah, yang tidak butuh banyak pemikiran atau memori. Ini masih jauh dari tahapan menganalisa.
5. Orang tua dan keluarga karyawan besar intervensinya terhadap pekerjaannya. Ada yang membawa kakeknya atau pamannya sebagai " body guard" untuk pamitan mendadak karena tidak mau bekerja lagi. Ada yang melamar pekerjaan dengan ditemani paman atau ayahnya. Ada yang dipaksa berhenti oleh ibunya meskipun anaknya masih ingin bekerja. Ada juga yang menyuruh anaknya bekerja dan beberapa bulan kemudian menyuruh anaknya berhenti mendadak di tengah masa kontrak kerja karena mau anaknya kuliah saja. Berubah pikiran tentang rencana atas anaknya.
6. Karakter yang sulit diarahkan dan tidak bisa tetap jujur saat diberi kepercayaan lebih. Kasus pencurian, penggelapan dan penipuan mewarnai buku evaluasi para karyawan sepanjang tahun.
Apabila angkatan kerja kita absen di bagian ketrampilan, pengetahuan, karakter dan etos kerja yang baik, maka kita sulit untuk maju dan bersaing dengan tenaga kerja negara tetangga yang konon lebih ulet dan ga banyak "polah" kata orang Jawa.